Loading..

Standar Waktu Indonesia Loading..

PERINGATAN DINI

INFORMASI TERKINI


SIARAN PERS (PRESS RELEASE)

PRAKIRAAN MUSIM KEMARAU 2022




“LA NINA BERTAHAN HINGGA PERTENGAHAN 2022, 47% WILAYAH ZONA MUSIM TERLAMBAT MASUK MUSIM KEMARAU” 

 

Bagaimana perkembangan musim hujan 2021/2022 sampai dengan saat ini? 

Pada akhir Agustus 2021, BMKG merilis Prakiraan Musim Hujan 2021/2022. Hasil pemantauan perkembangan musim hujan 2021/2022 hingga awal Maret 2022 menunjukkan bahwa hampir seluruh zona musim di wilayah Indonesia (97,08%) telah memasuki musim hujan. 

Bagaimana kondisi faktor pengendali iklim Indonesia di Samudera Pasifik dan Samudera Hindia? 

Hingga pertengahan Februari 2022, pemantauan terhadap anomali iklim global di dua Samudera yaitu Samudera Pasifik Ekuator menunjukkan La Nina masih berlangsung dan Samudera Hindia menunjukkan Dipole Mode (Indian Ocean Dipole Mode) dalam kondisi Netral. Indeks ENSO (El Nino-Southern Oscillation) menunjukkan wilayah Pasifik tengah dalam kondisi La Nina (indeks Nino 3.4 = -0,8), demikian juga IOD dalam kondisi Negatif (indeks DM = -0,51).  

Kondisi ENSO fase dingin ini (La Nina) diprediksi akan terus melemah dan beralih menuju netral pada periode Maret-April-Mei 2022. Selanjutnya, pemantauan kondisi IOD diprediksi akan kembali netral pada Maret hingga Agustus 2022. Prediksi ini akan diperbarui setiap dasarian. 

Kapan awal musim kemarau? 

Kedatangan musim kemarau umumnya berkait erat dengan peralihan Angin Baratan (Monsun Asia) menjadi Angin Timuran (Monsun Australia). Hingga Februari 2022, aliran angin Monsun Asia masih cukup kuat sesuai dengan normalnya dan diprakirakan masih berlangsung hingga Maret 2022. BMKG memprediksi peralihan angin monsun terjadi seiring aktifnya Monsun Australia pada akhir April 2022 dan mulai mendominasi wilayah Indonesia pada bulan Mei hingga Agustus 2022. 

Dari total 342 Zona Musim (ZOM) di Indonesia, sebanyak 29,8% diprediksi akan mengawali Musim Kemarau pada bulan April 2022, yaitu Zona Musim di Nusa Tenggara, Bali, dan sebagian Jawa. Sebanyak 22,8% wilayah akan memasuki Musim Kemarau pada bulan Mei 2022, meliputi sebagian Bali, Jawa, sebagian Sumatera, sebagian Kalimantan, Maluku, dan sebagian Papua. Sementara itu, sebanyak 23,7% wilayah akan memasuki Musim Kemarau pada bulan Juni 2022, meliputi Sumatera, sebagian Jawa, Kalimantan, Sulawesi, sebagian kecil Maluku, dan sebagian Papua. Sedangkan untuk 23,7% wilayah lainnyaawal Musim Kemarau tersebar pada bulan Januari, Maret, Juli, Agustus, September dan Oktober 2022. 

Apakah musim kemarau tahun ini datang lebih cepat atau lambat jika dibandingkan dengan normalnya? 

Jika dibandingkan terhadap rerata klimatologis Awal Musim Kemarau (periode 1991-2020), maka Awal Musim Kemarau 2022 di Indonesia diprakirakan MUNDUR pada 163 ZOM (47,7%)SAMA pada 90 ZOM (26,6%), dan MAJU pada 89 ZOM (26,0%). 

Bagaimana sifat hujan pada musim kemarau tahun ini? 

Apabila dibandingkan terhadap rerata klimatologis Akumulasi Curah Hujan Musim Kemarau (periode 1991-2020), maka secara umum kondisi Musim Kemarau 2022 diprakirakan NORMAL atau SAMA dengan rerata klimatologisnya pada 197 ZOM (57,6%). Namun sejumlah 104 ZOM (30,4%), akan mengalami kondisi kemarau ATAS NORMAL (MUSIM KEMARAU LEBIH BASAHyaitu curah hujan Musim Kemarau lebih tinggi dari rerata klimatologis) dan 41 ZOM (12,0%) akan mengalami BAWAH NORMAL (MUSIM KEMARAU LEBIH KERING, yaitu curah hujan lebih rendah dari reratanya). 

Kapan puncak musim kemarau tahun ini terjadi? 

Puncak Musim Kemarau 2022 di wilayah Indonesia diprakirakan umumnya terjadi pada bulan Agustus 2022 (sebanyak 52,9 % Zona Musim). 

Kesimpulan Prakiraan Musim Kemarau 2022 

Musim Kemarau pada tahun 2022 akan datang lebih lambat dibandingkan normalnya dengan intensitas yang mirip dengan kondisi Musim Kemarau biasanya. 

Rekomendasi menghadapi Musim Kemarau 2022 

Dalam menghadapi Musim Kemarau 2022, BMKG menghimbau seluruh mitra K/L, Pemerintah Daerah dan stakeholder serta masyarakat untuk tetap mewaspadai wilayah-wilayah yang akan memasuki musim kemarau lebih awal dibanding normalnya (sebanyak 26% Zona Musim), yaitu di sebagian Sumatera, sebagian Jawa, Kalimantan bagian selatan, sebagian Bali, sebagian Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua bagian timur.  

Perlunya peningkatan kewaspadaan dan antisipasi dini untuk wilayah-wilayah yang diprediksi akan mengalami musim kemarau lebih kering dari normalnya (sebanyak 12% Zona Musim) yaitu di Sumatera Utara bagian utara, sebagian Jawa Barat, Jawa Tengah bagian utara, sebagian Jawa Timur, sebagian Bali, sebagian Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan, sebagian Sulawesi, dan Maluku. 

Kementerian/Lembaga, Pemerintah Daerah, institusi terkait, dan seluruh masyarakat diharapkan untuk lebih siap dan antisipatif terhadap kemungkinan dampak musim kemarau terutama di wilayah yang rentan terhadap bencana kekeringan meteorologis, kebakaran hutan dan lahan, dan ketersediaan air bersihPemerintah Daerah dapat lebih optimal melakukan penyimpanan air sebelum memasuki puncak Musim Kemarau untuk memenuhi danau, waduk, embung, kolam retensi, dan penyimpanan air buatan lainnya di masyarakat melalui gerakan memanen air hujan. 

 

Jakarta, 18 Maret 2022 

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika 


Dwikorita Karnawati 

 

 


LIST SIARAN PERS



  • PRAKIRAAN MUSIM KEMARAU – Maret 2022
  • PENJELASAN ISU FENOMENA CHEMTRAILS DAN OMICRON – Februari 2022
  • MISKONSEPSI POLUSI UDARA DAN GELOMBANG OMICRON – Februari 2022
  • RILIS OUTLOOK IKLIM 2022 – Januari 2022
  • WEBINAR LITERASI IKLIM LINTAS AGAMA – November 2021
  • WASPADA LA NINA DAN PENINGKATAN RESIKO BENCANA HIDROMETEOROLOGI – Oktober 2021
  • TIDAK BENAR GELOMBANG PANAS SEDANG TERJADI DI INDONESIA, JANGAN PANIK DAN TETAP WASPADA – Oktober 2021
  • AWAL MUSIM HUJAN PERTANDA MASA PANCAROBA, WASPADA DAMPAK POTENSI CURAH HUJAN TINGGI – Oktober 2021
  • PERALIHAN MUSIM, BMKG WANTI-WANTI CUACA EKSTREM 10 HARI KEDEPAN – Oktober 2021